|
|
|
Jumat, 12 Oktober 2012 12:48 |
|
Pustaka -
Karya Ilmiah
|
|
Artikel Lomba Penulisan Ilmiah Bulettin SPIRAKEL
PENGARUH MODIFIKASI IKLIM MIKRO DENGAN VEGETASI RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT MALARIA
Arif Susanto
e-mail:
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kasus malaria dan faktor iklim serta pengaruh modifikasi iklim melalui ruang terbuka hijau dalam upaya pencegahan malaria. Metode penelitian yang digunakan yaitu kausal-komparatif dengan menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat insieden malaria dengan ruang terbuka hijau yang berpengaruh terhadap iklim mikro.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara wilayah yang memiliki ruang terbuka hijau dengan wilayah yang tidak memiliki ruang terbuka hijau dengan memiliki nilai korelasi positif 0.637 dan nilai uji beda (t-test) 4.174 dengan nilai signifikansi 0.09. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ruang terbuka hijau mampu memodifikasi iklim mikro maupun meso agar dapat memutuskan mata rantai penularan yang pada gilirannya dapat menurunkan angka kesakitan malaria pada daerah tertentu. Elemen iklim mikro dalam hal ini adalah suhu, kelembapan, intensitas cahaya dan curah hujan.
Katakunci: iklim mikro, malaria, ruang terbuka hijau.
THE INFLUENCE OF GREEN OPEN SPACE REVEGETATION TOWARD MICRO-CLIMATE MODIFICATIONS IN THE CONTROLS OF MALARIA DISEASE
Arif Susanto
e-mail:
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
This study aims to analyze the relationship of malaria cases, climatic factors and the effects of climate modifications through green open spaces in malaria preventions.
The research method used is a causal-comparative to investigate possible causal relationship of incidence malaria with green open space which affects the microclimate.
The results showed that there are differences between the territory that has a green open space has a positive correlation value 0.637 with different test values (t-test) in 4.174 to the significance of 0.09 without a green open space. The study also concluded that the green open spaces are able to modify the micro and meso climate in order to break the chain of transmission which in turn can reduce morbidity of malaria in certain regions. Microclimate elements in this case are temperature, humidity, light intensity, and rainfall.
Keywords: micro-climate, malaria, green open spaces.
|
|
|
|
Senin, 27 Februari 2012 04:11 |
|
Pustaka -
Prosiding
|
SEMINAR NASIONAL 2012 - WASTE MANAGEMENT
Waste Management for Sustainable Urban Development
Laboratorium Teknologi Pengelolaan Limbah Padat dan B3
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Sepuluh November
Surabaya, 21 Februari 2012
ISBN: 978-602-95595-4-5
PEMANFAATAN ABU BATUBARA (COAL ASH) DAN PASIR SISA TAMBANG (TAILING) SEBAGAI BAHAN
KONSTRUKSI JALAN
COAL ASH AND TAILING UTILIZATION AS ROAD CONSTRUCTION MATERIAL
Hendrikus Budyano1 dan Arif Susanto2
1
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
;
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
ABSTRAK
Kandungan silika yang cukup tinggi memungkinkan abu batubara memenuhi kriteria sebagai bahan yang memiliki sifat semen (pozzolan). Tujuan penelitian ini yaitu untuk merubah abu batubara menjadi senyawa ”monolit” dan stabil adalah dengan mencampurkannya dengan bahan pengikat (cement) dan dengan ditambah bahan pengisi seperti pasir, kapur atau lainnya untuk kemudian dijadikan bahan bangunan. Metode pengujian terdiri atas uji karakteristik abu batubara, uji kompaksi, uji kuat tekan bebas, uji california bearing ratio dan uji metal toxicity characteristic leaching procedure (TCLP). Tipe Fly Ash : Semen = 1 : 0,07 yang memberikan nilai qu yang sudah lebih besar dari nilai maksimum dari tanah. Tipe 1: cocok sebagai bahan dasar lapisan sub grade; Tipe 2: cocok sebagai bahan dasar lapisan sub base; Tipe 3: cocok sebagai bahan dasar lapisan sub base; Tipe 4: cocok sebagai bahan dasar lapisan sub base. Berdasarkan pengujian TCLP untuk semua variasi campuran semua parameter yang diuji memenuhi standar baku mutu lingkungan.
Kata kunci: abu batubara, konstruksi jalan, pasir sisa tambang, TCLP, uji kuat tekan, uji kompaksi, uji CBR.
ABSTRACT
The content of silica is high enough to meet the criteria allowing coal ash as a material having properties of cement (pozzolan). The purpose of this study is to transform coal ash into a compound "monolith" and stable is by mixing with a binder (cement) and with added fillers such as sand, lime or other to then be used as building materials. The method of testing consisted of testing the characteristics of coal ash, proctor test, compressive strength tests, california bearing ratio test and toxicity characteristic leaching procedure (TCLP). Type of Fly Ash: Cement = 1: 0.07 which gives the value of qu already greater than the maximum value of the land. Type 1: suitable as a base layer of sub-grade; Type 2: suitable as base material sub-base layer; Type 3: suitable as base material sub-base layer; Type 4: suitable as base material sub-base layer. Based on the TCLP test for all variations of a mixture of all the parameters tested meet the standards of environmental quality standards.
Keywords: california bearing ratio test, coal ash, compressive strength test, proctor test, road construction, tailing, TCLP.
|
|
|
|
Rabu, 08 Februari 2012 02:01 |
|
Pustaka -
Prosiding
|
|
2nd International Seminar on Environmental Health
"Water: Environmental Health Perspective"
Presented By
Public Health Faculty of Airlangga University
December, 3-4th, 2011
ISBN: 978-602-19420-0-0
http://fkm.unair.ac.id/iseh2011/Paper2.htm
MODEL ANALYSIS OF WATER QUALITY ON THE WATER FLUORIDATION SYSTEM OF DRINKING WATER DISTRIBUTION NETWORK
IN THE CITY OF TEMBAGAPURA
Arif Susanto1, Purwanto and Agus Hadiyarto 1e-mail:
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
Abstract
Water is the primary vehicle for improving community health status. Quality requirements of drinking water consumed by the public so as not to cause health problems the organizers need to conduct surveillance of drinking water quality. Water fluoridation in the city of Tembagapura intended to achieve the level of fluoride concentration at a certain level that is safe and can provide maximum benefit for dental health.
The purpose of this study is to determine the hydraulic analysis and water quality model for fluoride concentrations and to compare the water quality model for fluoride with the results of field measurements in drinking water distribution network system in the City of Tembagapura.
The method of analysis used in this study the method of hydraulic analysis and water quality that is a model that will provide configuration traces of fluoride on the existing pipeline network that has been known from asbuilt drawing with field survey results are included in the hydraulic analysis program EPAnet 2.
Most Extreme Difference Absolute value where the value of D in the test against each variable is the 0.105 and 0.373, which means p > 0.05 then the model is accepted. Similarly, when using the indicator value is the value of Z which are respectively 0.943 and 3.338, which means p > 0.05 then the model is accepted.
The simulation results for the hydraulic and water quality concentrations of fluoride has been known that the resolution for head and flow at the point which includes the completion of the simultaneous separate the flow equation for each junction and the head loss relationship at every link in the network as a hydraulic balancing.
Tracking the concentration and size of the series against the non-overlapping segments of the water that fills every link in the network. During the course of time, the size of the upstream segment in a link increases with the amount of water that entered in the link. The new segment will be created at the end of each link that receives inflow from a node if the quality of the new node is different from a link on the last segment. Each pipe in the network contains a single segment where water quality is comparable with the initial quality of the set at the initial node.
Key words: concentration of fluoride, drinking water distribution network, EPAnet, Tembagapura |
|
|
|
Rabu, 19 Januari 2011 03:44 |
|
KUMPULAN BERITA -
Kliping
|
|

Sekitar 70 persen kasus hepatitis B virus dan menahan luput dari diagnosis. Akibatnya, penyakit itu berisiko menjadi penyakit hati menahan dan tidak mendapatkan pengobatan. Hepatitis virus merupakan peradangan hati yang diakibatkan oleh virus. Jenis penyakit hepatitis virus B dan C termasuk yang paling sering muncul dan merupakan penyebab utama kanker hati dan transplantasi hati. Hepatitis B merupakan masalah kesehatan yang mengkhwatirkan. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 350 juta orang di dunia terinfeksi virus itu.
|
|
|
|
Kamis, 06 Januari 2011 08:34 |
|
Pustaka -
Laporan
|
|
Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat telah dipilih empat indikator, yaitu persentase keluarga yang memiliki akses air bersih, presentase rumah sehat, keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar, Tempat Umum dan Pengolahan Makanan (TUPM) .
Didalam memantau pelaksanaan program kesehatan lingkungan dapat dilihat beberapa indikator kesehatan lingkungan sebagai berikut:
Penggunaan Air Bersih
Untuk tahun 2009 dari 134.660 KK yang diperiksa ternyata yang memiliki akses air bersih telah mencapai 94,52 % dengan perincian sbb : sumur gali + 36,08 %, sumur pompa tangan + 29,16 % ledeng + 9,06 %, PAH 0,48 % ,kemasan 2,79 % dan lainnya + 22,74 %
|
|
|
|
Kamis, 06 Januari 2011 08:47 |
|
KUMPULAN BERITA -
Artikel
|
|
Salah satu kebutuhan penting akan kesehatan lingkungan adalah masalah air bersih, persampahan dan sanitasi, yaitu kebutuhan akan air bersih, pengelolaan sampah yang setiap hari diproduksi oleh masyarakat serta pembuangan air limbah yang langsung dialirkan pada saluran/sungai. Hal tersebut menyebabkan pandangkalan saluran/sungai, tersumbatnya saluran/sungai karena sampah. Pada saat musim penghujan selalu terjadi banjir dan menimbulkan penyakit.
Beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh sanitasi yang kurang baik serta pembuangan sampah dan air limbah yang kurang baik diantaranya adalah diare, demam berdarah, disentri, hepatitis A, kolera, dan tiphus.
Mengapa BAB harus sehat??kenapa jamban yang kita miliki harus sehat??? mungkin ini yang belum pernah terpikirkan oleh sebaian besar masyarakat pedesaan kita. Dari penjelasan di atas sudah dapat diketahui penyakit yang timbul akaibat BAB dan jamban tidak sehat. jamban sendiri Merupakan tempat penampung kotoran manusia yang sengaja dibuat untuk mengamankannya, dengan tujuan: Mencegah terjadinya penyebaran langsung bahan-bahan yang berbahaya bagi manusia akibat pembuangan kotoran manusia dan Mencegah vektor pembawa untuk menyebarkan penyakit pada pemakai dan lingkungan sekitarnya.
|
|
|
|
Kamis, 06 Januari 2011 08:50 |
|
KUMPULAN BERITA -
Artikel
|
Sanitasi merupakan salah satu komponen dari kesehatan lingkungan, yaitu perilaku yang disengaja untuk membudayakan hidup bersih untuk mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya, dengan harapan dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.
|
|
|
|
Kamis, 06 Januari 2011 08:57 |
|
KUMPULAN BERITA -
Artikel
|
|
KAJIAN tentang implikasi Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup terhadap kondisi kesehatan lingkungan belum banyak dilakukan. Kebanyakan kajian dilakukan mengenai implikasi UU ini terhadap migas dan sumber daya alam (kajian ekonomi sumber daya) dan kajian ilmu lingkungan itu sendiri. Kesehatan lingkungan sebagai bagian dari disiplin ilmu kesehatan masyarakat sebenarnya memiliki relevansi tersendiri dengan UU No. 32/2009. Mengutip Notoatmodjo (2003), kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudan status kesehatan yang optimum pula. Ruang lingkup kesehatan lingkungan tersebut, antara lain mencakup penyediaan air bersih, pembuangan sampah, pembuangan air kotor (limbah), pembuangan kotoran manusia (tinja), dan sebagainya. Sementara usaha kesehatan lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimalkan lingkungan hidup manusia agar merupakan media yang baik untuk terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup didalamnya.
|
|
|
|
Kamis, 06 Januari 2011 09:19 |
|
KUMPULAN BERITA -
Artikel
|
|
Rumah sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia merupakan tempat untuk membangun kehidupan keluarga. Untuk itu rumah seharusnya dapat memberikan wadah bagi kegiatan seluruh anggopta keluarga dengan baik.
Arti rumah bagi keluarga sebagai : tempat untuk berlindung, tempat pembinaan keluarga, dan tempat kegiatan keluarga.
Syarat rumah sehat.
memenuhi segi kesehatan Artinya bagian bagian rumah yang mempengaruhi kesehatan keluarga hendaknya dipersiapkan dengan baik terutama terutama :Penerangan dan per anginan dalam setiap ruang harus cukup, Penyediaan air bersih,pengaturan pembuangan air linmbah, kotoran manusia dan sampah tidak menimbulkan pencemaran,Luas rumah yang sebanding dengan jumlah penghuni,Bagian bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab,Tidak terjadi pencamaran seperti bau, rembesan air kotor, udara kotor, dan sebagainya.
Memenuhi segi kekuatan bangunan Artinya bagian bagian dari bangunan rumah mempunyai konstruksi dan bahan bangunan yang dapat dijamin keamanannya seperti :Konstruksi bangunan yang cukup kuat, baik untuk menahan beratnya sendiri maupan pengaruh luar seperti angin, hujan, gempa dan lain lain, Pemakaian bahanbangunan yang bisa dijamin keawetan dan kemudahan dalam pemeliharaan, dan Penggunaaan bahan tahan api, untuk bagian yang mudah terbakar, dan bahan tahan air untuk bagian yang selalu basah.
|
|
|
|
Kamis, 06 Januari 2011 09:21 |
|
KUMPULAN BERITA -
Artikel
|
|
Bagaimana lingkungan kerja saat ini? Setiap orang tentu ingin memiliki lingkungan kerja yang sehat dan menyenangkan, sehingga karier tumbuh dan berkembang dengan baik.
Namun, tak jarang keinginan tinggal keinginan, sementara jika ingin pindah kerja, belum ada perusahaan bisa menerima dalam waktu dekat. Akibatnya, Anda jadi stres.
Sebelum Anda mengalami ‘mimpi buruk’ seperti ini, berikut merupakan ciri-ciri lingkungan kerja yang tidak sehat. Jika apa yang dipaparkan di bawah ini ada dalam lingkungan kerja Anda, Anda dapat mengantisipasinya sejak dini.
|
|
|